Saham Nyangkut, Jual atau Hold? Ini Jawabannya

High Five! bagi sesama investor yang punya saham nyangkut. Yeap, saya juga termasuk investor yang tidak menjual sahamnya sejak penurunan IHSG dari februari hingga maret. Namun saya juga tidak serok bawah, tangkap pisau jatuh ataupun Dollar-Cost Averaging (DCA) alias nabung saham rutin, melainkan yang saya lakukan adalah wait-and-see aja.

Oh ya bagi investor yang merasa galau gara-gara melihat portfolio dan sudah gatel banget mau jual saham, bisa baca curhatan saya di artikel ini.

Nah kenapa kok saya tidak jual dan tidak beli lagi sahamnya? Saya jawab satu-satu ya, mulai dari aksi tidak beli dahulu.

Efek COVID-19 Terhadap Ekonomi

Saya termasuk orang yang meremehkan efek virus corona terhadap ekonomi pada awal tahun 2020, karena pada saat itu penyebarannya hanya sebatas di Cina dan negara sekitar. Namun di bulan februari setelah imlek, saya mulai sedikit merasakan efeknya, karena usaha saya secara langsung dan tidak langsung berurusan dengan impor dari Cina. Pada bulan Maret kemarin barulah saya paham bahwa COVID-19 ini tidak hanya sebagai katalis penurunan ekonomi 10 tahun sekali, namun juga menambahkan akibatnya juga. Kalau bingung mungkin bisa baca artikel saya di sini.

Masalah segala macam yang berhubungan dengan COVID-19 saya tidak komen, karena saya memang tidak mempelajarinya. Namun efek yang ditimbulkan oleh pandemic ini adalah reaksi heboh oleh masyarakat yang disebabkan oleh media massa (TV, SocMed, Gosip, dll) dan juga peraturan pemerintah. Akibat major dari sisi penjual sudah jelas:

  • Perusahaan banyak yang menutup pintunya dan karyawannya disuruh Work From Home kalau bisa. Sedangkan yang tidak bisa ya ditutup aja, karyawan antara diliburkan dengan gaji atau tanpa gaji.
    Sektor Rugi = Parkir, Ojol, Kantin, ATK, Mesin
  • Sekolah juga tutup dan muridnya otomatis nganggur seharian di rumah, ada e-learning sih cuman ya tetap tidak sesibuk kalau sekolah pada umumnya.
    Sektor Rugi = Supplier kantin, UMKM sekitar sekolah, Percetakan, Tekstil
  • Usaha yang memerlukan banyak orang berkumpul di suatu tempat juga akhirnya harus tutup. Termasuk usaha yang harus meet-up.
    Sektor Rugi = Konstruksi dan pendukungnya, Semua Entertainment non digital (Bioskop, Konser, Olahraga), Hotel, Pariwisata, Restaurant, Manufaktur, Mall.

Itu adalah segelintir sektor yang merugi per bulan Maret yang muncul di kepala saya, sektor lainnya mungkin bisa ditambahkan di komentar di bawah. Ada beberapa sektor yang diuntungkan juga seperti Supermarket, Agrobisnis, E-commerce dan perdagangan bahan pokok, namun jelasnya lebih banyak yang dirugikan daripada untung.

Dari sisi pembeli atau konsumen akibatnya adalah cash flow yang berantakan. Bayangkan bila anda salah satu dari jutaan orang yang pendapatannya berdasarkan dari komisi penjualan, gaji harian, bagi hasil, hasil jualan barang non-pokok atau jasa. Sudah pasti penghasilan turun.

Sedangkan pengeluaran semakin membesar karena banyak orang yang panic buying sehingga stok berkurang dan harga menjadi lebih mahal. Bagi para ibu-ibu yang membaca artikel ini saya kasih tempat untuk curhat harga bawang putih, bawang bombay dan cabe yang harganya naik banyak.

Tentu saja dengan cashflow berantakan, buying power semakin menurun. Turunnya buying power mengakibatkan turunnya juga penjualan perusahaan-perusahaan. Dan cycle ini berulang-ulang sampai suatu saat ketemu bottomnya. Kapan bottomnya? Saya tidak tahu, tapi apakah saat ini sudah bottom? Menurut saya saat ini dampak COVID-19 masih belum mencapai titik puncaknya.

Situasi ini mirip keadaan di USA setelah kejadian 9/11 dimana banyak orang yang tidak berani keluar karena takut, sehingga banyak pedagang yang gak dapat omzet juga. Namun keadaan ini memang lebih parah karena selain takut, kita juga sebenarnya tidak boleh keluar sembarangan. Karena ancaman kali ini bukan hanya di pikiran kita saja tapi memang beneran ada.

Maka, karena saat ini keadaan ekonominya seperti itu, saya masih mengira-ngira akan terus down beberapa bulan ke depan. Karena ekonomi akan turun, tentu saja kemungkinan besar IHSG juga ikut turun. Inilah salah satu alasan kenapa Paskalis Investment belum membeli saham.

Beberapa Saham Mungkin Sudah Bottom

Analisa Valuasi GGRM

Hah gimana? tadi katanya masih akan turun lagi, kok sekarang harga saham sudah bottom? Sabar ya, penjelasannya di bawah.

Seperti yang saya bilang tadi di awal bahwa Paskalis Investment tidak beli maupun jual saham namun hold saja walaupun dengan saham nyangkut. Hal ini diputuskan karena dua peristiwa di BEI:

  • Batas Bawah atau Auto Reject Bawah (ARB) saham dibatasi jadi 10% pada 10 Maret 2020 dan ditipiskan lagi jadi 7% 3 hari kemudian.
  • Terjadi lonjakan harga luar biasa pada 20 Maret 2020. Saham-saham seperti GGRM, HMSP, UNVR bisa naik 15-20% dalam sehari.

Dua peristiwa ini menyebabkan adanya kemungkinan bahwa harga saat kita jual saham adalah harga bottom walaupun IHSG masih turun terus. Karena saat suatu saham ARA, saham tersebut butuh beberapa kali ARB untuk bisa mencapai harga awalnya.

Pada 19 Maret 2020 mungkin anda mulai berpikir seperti ini: Ini IHSG turun terus tiap hari, dan Corona juga makin parah. Kemungkinan besar IHSG pasti akan turun terus sebelum Corona mereda dan kayaknya redanya masih lama deh. Mending GGRM gua jual dulu deh, nanti beli pas di harga lebih murah lagi. Lalu anda jual sebelum market tutup di Rp 32,900. Daaan besoknya GGRM naik 20% jadi Rp 39,475.

Nah di sini kita sudah bisa berhitung. Bila anda mengharapkan untuk at least bisa beli GGRM di harga jual anda tadi berarti anda berharap GGRM turun 6,575 rupiah atau -17%. Sedangkan batas ARB BEI adalah 7%, berarti butuh at least 3 hari ARB berturut-turut untuk mendapatkan harga lama (belum cuan lho ya). Itupun kalau ARB tiap hari.

Gimana kalau misalnya GGRM penurunannya tidak ARB tapi sama dengan IHSG? Penurunan IHSG paling curam adalah sekitar -5% dan yang cukup landai sekitar -2%. Maka anggap saja GGRM turun -3% setiap harinya. Anda butuh at least 6 hari berturut-turut penurunan GGRM buat balik modal. Sayangnya, per hari ini GGRM malah di atas 44 ribu.

Adanya kemungkinan harga jual lebih rendah daripada harga beli ini sangat mengacaukan psikologi seorang investor. Karena sebagai manusia, kita pasti tidak ingin rugi, apalagi rugi dua kali! Saya coba gambarkan dengan 2 skenario ini:

Skenario 1 = Beli GGRM sebelum Corona di 55,000
Skenario 2 = Beli GGRM sebelum Corona di 55,000 lalu jual pada 19 Maret 2020 di harga 32,900.

Bila nanti misalnya pada Juni 2020, investor ini sudah memperkirakan bahwa dampak Corona terhadap ekonomi sudah mereda, masyarakat sudah mulai optimis, dan IHSG sudah bottom. Maka tentu hasil analisanya menunjukkan saatnya beli! dan karena harga GGRM meningkat pesat, namun penurunannya terbatas, maka pada saat itu harganya 35,000.

Maka investor di Skenario 1 tadi berpikir “Saya memang sudah rugi banyak sejak saham GGRM nyangkut di 55,000, tapi ya sudahlah itu kan masih floating loss dan timingnya kurang tepat. Sekarang saatnya saya beli sebanyak-banyaknya karena ke depan harga pasti akan naik lagi. Kalau harga balik lagi ke 55,000 setidaknya saya sudah untung banyak sekali dari pembelian hari ini.”

Sedangkan investor di Skenario 2 akan berpikir “Saya sudah rugi banyak karena saham GGRM nyangkut di 55,000 jual di 32,900 (Rugi 40%), lalu sekarang kalau beli di 35,000 berarti saya ketinggalan kereta (Rugi 6.5%), berarti rugi dua kali dong! Tunggu aja deh sampe 32,500 baru saya beli lagi.”

Kalau kita sebagai pihak ke-3 melihat investor tersebut, kita bisa saja mengatakan “secara matematika sebenarnya ya sama aja sih”, tapi tentu saja kalau kita bernasib seperti investor skenario 2, kita akan memiliki pemikiran yang sama.

Diluar kejadian extraordinary seperti COVID-19 pun hal ini sering terjadi, makanya banyak yang menyebut kalau saham itu “dibeli turun, dijual naik”. Nah karena volatilitas IHSG yang tinggi dan adanya pembatasan ARB tanpa ada pembatasan ARA. Maka Paskalis Investment memutuskan untuk hold.

Pedang dan Tameng

Bila disimpulkan, keputusan untuk tidak membeli dan menjual saham didasari oleh dua faktor. Analisa dan Psikologi. Saya tidak membeli karena menurut analisa saya, secara makro ekonomi efek COVID-19 masih belum puncak sehingga ekonomi Indonesia masih ada kemungkinan untuk turun lagi. Sedangkan saya tidak menjual karena bila saya menjual di harga yang tidak tepat, psikologi saya akan mengacaukan pengambilan keputusan saat waktunya beli saham.

Sebagai investor pedang dan tameng kita adalah analisa dan psikologi. Kita menganalisa perusahaan seolah-olah menyerang perusahaan tersebut dengan segala macam valuasi kita. Lalu kita bertahan dari gempuran berita-berita, isu-isu dan hal lainnya agar kita dapat menghasilkan keputusan yang tepat di saat yang tepat.

Semua orang sangat suka pedang tajam, tapi sering lupa terhadap tameng yang kuat. Semua orang bisa belajar analisa, bahkan bisa memakai program komputer untuk membantu analisa. Namun, psikologi manusia yang sangat rapuh tidak bisa digantikan oleh mesin apapun. Maka keadaan mental yang stabil sangat berharga bagi mereka yang serius untuk berinvestasi.

Kata orang “Jangan membuat keputusan ketika anda sedang marah”, saya tambahkan jangan melakukan sesuatu yang membuat anda marah. Ingat bahwa harga saham berubah setiap harinya, anda tidak tahu kapan kesempatan untuk beli atau jual itu datang. Maka kita harus selalu mempersiapkan mental yang baik untuk dapat menghasilkan keputusan yang baik juga.

Terakhir, untuk menenangkan diri kita yang masih galau saham nyangkut. Perhatikan baik-baik gambar grafik IHSG dari awal tahun hingga hari ini. Tenang, kenaikan IHSG akhir-akhir tidak sedrastis penurunannya. Keep Calm and Stay Healthy.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *