Dampak Virus Corona Terhadap IHSG

Dampak virus corona terhadap ihsg

Sejak 24 Januari 2020, IHSG mulai mengalami penurunan yang cukup tajam (sekitar 2%) yang terus dilanjutkan dengan lompat indah hingga akhirnya IHSG berada di bawah Rp 6,000. Seperti biasa, kenaikan atau penurunan IHSG selalu dikaitkan dengan isu-isu terpanas pada waktu itu, kali ini berita terhebohnya tentu saja virus Corona. Namun apakah penurunan IHSG ini memang benar-benar karena virus Corona? Bila iya, sampai kapan IHSG akan terpuruk?

IHSG memang terkenal indeks yang latah, karena biasanya turun-naiknya IHSG dikarenakan turun naiknya indeks negara besar lainnya, seperti S&P 500 (USA), Nikkei 225 (Jepang) atau SHA (Cina). Setelah saya bandingkan, pada tanggal 23 Januari 2020 S&P 500 dan SHA sudah mulai turun tajam yang besoknya disusul oleh Nikkei 225 dan IHSG.

Maka untuk menganalisa pengaruh virus Corona terhadap IHSG, kita bisa mulai menganalisa pengaruh pandemic (penyebaran virus skala global) oleh penyakit-penyakit sebelumnya terhadap indeks negara lain. Kebetulan saya ketemu artikel dari Ray Dalio, CEO Bridgewater Associates yang adalah salah satu Hedge Fund terbesar dan tersukses saat ini, di LinkedIn yang membahas mengenai pandemic-pandemic sebelum Corona dan dampaknya. Berikut rangkuman analisanya:

Pandemic vs Index

Ada beberapa pandemic yang terjadi sejak 100 tahun terakhir yang data ‘kerusakannya’ bisa dilihat di tabel di bawah ini.

Kali ini Ray Dalio hanya fokus terhadap 3 pandemic saja yaitu H1N1 (Flu Burung), SARS dan Spanish Flu.

Flu Burung

Flu Burung pertama kali ditemukan di Mexico pada tahun 2009 yang lalu menyebar ke berbagai negara di dunia. Di Indonesia, pandemic ini diberitakan cukup konsisten yang menyebabkan orang takut makan sapi. Surprisingly, korban jiwa dari virus ini tidak terlalu banyak, hanya sekitar ~12% dari total kematian akibat kecelakaan lalu lintas.

USA Equity Price Index juga tidak terlalu terpengaruh. 23 Oktober 2009 saat Presiden Obama mengumumkan Siaga 1 di Amerika, Indeks saham Amerika langsung terjun bebas, tapi tidak sampai sebulan sudah naik lagi lebih tinggi karena pengumuman bahwa kondisi terburuknya sudah lewat. Sebenarnya, terus naiknya indeks ini disebabkan oleh Recovery dari krisis saham 2008. Jadi penurunan oleh H1N1 itu hanya numpang lewat saja.

SARS

SARS adalah pendahulunya virus Corona karena dua-duanya sangat mirip. SARS ditemukan pada 16 November 2002 di Guandong, China. Penyebarannya juga mirip, dimana 26 negara terjangkit oleh SARS, namun korban terbanyak adalah negara di sekitar Cina. Pada Maret 2003, SARS mulai menyebar ke negara lainnya dan WHO menetapkan larangan travel karena SARS. Namun 2 bulan setelahnya WHO telah menyatakan virus SARS sudah terisolasi di daerah sekitar Cina saja.

SARS menurunkan indeks pasar saham Hongkong hingga -15%. Baru pada akhir Mei 2004, 5 bulan sejak penurunannya, indeks tersebut pulih kembali. Sedangkan indeks pasar saham negara maju (World Developed Index) juga terpengaruh cukup dalam pada pertengah Maret (WHO memberikan travel warning) namun akhirnya segera pulih dan terus naik. Pada akhir Maret – awal April, ada juga penurunan sedikit pada saat mulainya konfirmasi kasus-kasus SARS di seluruh dunia, namun penurunan ~15 poin ini hanya berlangsung beberapa hari saja.

Spanish Flu

Mayoritas pembaca artikel ini pasti tidak pernah tahu pandemic Spanish Flu, saya sendiri pun baru pertama kali dengar. Wajar saja karena pandemic ini terjadi lebih dari 100 tahun yang lalu. Pandemic terparah sepanjang masa ini dimulai di Kansas pada 4 Maret 1918. Pagi hari itu, seorang koki di markas tentara USA mengeluh ke perawat karena terkena flu. Sore harinya, 107 orang mengalami gejala yang sama. 2 hari berikutnya, 522 orang terjangkit penyakit yang sama. Setelah itu penyebaran terjadi di seluruh negara bagian USA, lalu ke Cina dan Jepang dan 2 bulan berikutnya seluruh dunia terjangkit Spanish Flu.

Tragedinya tidak hanya sampai situ, bagi para historian yang membaca artikel ini pasti langsung sadar saat membaca tahun 1918. Yes, ini adalah tahun hampir berakhirnya Perang Dunia 1 (1914-1918). Salah satu penyebab penyebaran Spanish Flu yang sangat-sangat cepat ya karena kondisi perang saat itu dimana mayoritas penduduk tidak punya cukup makanan dan obat-obatan untuk menangkal virus ini. Markas-markas yang rusak dan kotor juga berubah menjadi markas virus penyebab flu. Baru setelah 1,5 tahun kemudian virus ini reda. Sayangnya sekitar 500 juta orang terjangkit Spanish Flu dan 50 juta orang meninggal.

Perang Dunia 1 jelas membawa kehancurkan ke pasar saham dunia. Tetapi seperti market crash pada umumnya, bisa penyebab sudah mereda, indeks harga saham pasti akan pulih dan naik lebih tinggi lagi. Bahkan Spanish Flu tidak bisa menggoncangkan Bull Market setelah perang reda.

Kesimpulan

Data-data di atas menunjukkan hal yang sama, pengaruh pandemic ke pasar saham sifatnya hanya sementara saja. Pergerakan pasar saham secara garis besar dipengaruhi oleh hal yang lebih menyangkut ke ekonomi Dunia seperti Housing Market 2008, Asia Currency Crash 1998 dan The Great Depression 1928. Apalagi pandemic kali ini mirip dengan SARS yang mortality ratenya rendah dan ‘baru’ ada 1 yang meninggal di luar Cina.

Maka menurut pendapat saya, dampak virus Corona terhadap IHSG ini tidak akan berlangsung lama, kecuali apabila ternyata penyebarannya tetap berlanjut ke seluruh dunia (rasanya tidak mungkin). Per tanggal 4 Februari 2020, IHSG dan indeks saham luar negeri sudah mulai beranjak naik, namun masih belum pasti apakah ini hanya dead cat bounce alias kenaikan gara2 trader lagi taking profit, atau memang pemulihan pasca berita virus Corona. Karena itu saat ini saya memang tidak agresif dalam membeli/menjual saham bukan karena virus Corona tapi karena kondisi market global secara garis besar yang masih galau antara terjadinya Bull and Bear market. Selagi menunggu, ada baiknya kita analisa perusahaan saja. Ada usulan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *