| Date | Cumulative Return (%) | |
| PI | IHSG | |
| 1 Jan 2020 | 0 | 0 |
| HY 2020 | 17.53 | -22.13 |
| FY 2020 | 39.91 | -5.09 |
| HY 2021 | 55.33 | -4.99 |
| FY 2021 | 56.75 | 4.48 |
| HY 2022 | 52.96 | 9.72 |
| FY 2022 | 61.36 | 8.75 |
| HY 2023 | 87.89 | 5.75 |
| FY 2023 | 115.97 | 15.45 |
| HY 2024 | 109.58 | 12.13 |
| FY 2024 | 166.28 | 12.39 |
| HY 2025 | 184.05 | 9.97 |
| FY 2025 | 229 | 37.26 |
| CAGR (2020-2025) | 21.95 | 5.42 |
Sepanjang tahun 2025 Portofolio Paskalis Investment (PI) mengalami peningkatan sebesar 23.55%, lebih tinggi dibanding peningkatan IHSG sebesar 22.13%.
Mulai tahun ini saya tidak lagi membandingkan kinerja PI dengan SFF karena saya merasa portofolio reksadananya melenceng dari biasanya. Selain itu, isi portofolio PI sudah >90% berisi saham Indonesia sehingga saya merasa perbandingan dengan IHSG sudah cukup relevan.
beneran crash
Pada penutup Annual Letter tahun lalu saya mengatakan bahwa banyak investor hebat yang membicarakan tentang market crash. Tidak disangka sejak akhir Januari IHSG secara perlahan terkikis dari 7.300 hingga mencapai di bawah 7.000 walau hanya berselang beberapa hari. Sejak saat itu IHSG terus mengalami penurunan hingga akhir Maret.
Seingat saya penyebabnya memang pada saat itu ekonomi Indonesia sedang di masa yang cukup terpuruk karena kebijakan pemerintah yang secara drastis memotong pengeluaran pemerintah dan memindahkannya ke program Makan Bergizi Gratis (MBG), belum lagi proyek besar seperti IKN yang mangkrak, kepercayaan investor asing yang luntur dan juga LDR bank yang mentok sehingga uang tidak bisa berputar di bawah.
Puncak crash terjadi pada hari pertama pembukaan market setelah libur lebaran, 8 April 2025, dimana IHSG mencapai titik terendah di 5.883. Kali ini penyebabnya adalah pengenaan tarif luar biasa dari Donald Trump kepada Indonesia dan negara lainnya. Negara lain pun mengalami crash serupa tapi mereka merasakannya duluan karena pada waktu itu terjadi IHSG masih libur lebaran.
Oh ya, ditengah-tengah itu ada 1 hari dimana IHSG mengalami trading halt yaitu pas tanggal 18 Maret 2025. Ini penyebabnya tidak jelas, tapi tiba-tiba saja semua saham turun secara serentak tapi setelah itu recover dengan cepat sehingga pada saat closing hanya -3.84%.
Sebagai catatan, saya menulis Annual Letter ini pada akhir Februari 2026. Pada akhir bulan lalu kita mengalami crash lagi, bahkan jauh lebih hebat dari gabungan ketiga crash di atas. Kali ini disebabkan karena ada ancaman dari MSCI untuk menurunkan Indonesia dari Emerging Market ke Frontier Market karena berbagai alasan.
Jadi apakah ramalan crash para investor hebat itu benar?
Saya yakin prediksi crash mereka itu berdasarkan faktor valuasi IHSG dan mungkin S&P500 yang sudah terlalu mahal. Kalau di Indonesia bisa jadi karena Konglo Stocks, kalau di S&P500 karena AI bubble. Namun, ketiga crash yang terjadi itu semuanya tidak ada hubungannya dengan hal itu. Semuanya disebabkan oleh kejadian kejadian yang sama sekali tidak diprediksi, bahkan oleh investor terhebat sekalipun.
Jadi menurut saya quote klasik “Never time the market” masih berlaku hingga saat ini. Tapi yang bisa saya note adalah ketika banyak investor hebat merasa ini waktunya untuk menambah porsi cash, biasanya memang tidak lama lagi market akan mengalami koreksi. Entah kapan dan apa alasannya. Sehingga saya perlu lebih peka terhadap sentimen itu dan juga lebih berani untuk raise cash ketika dibutuhkan.
memperluas Horizon
Tidak lama setelah bulan April, IHSG perlahan merangkak naik seiring dengan perbaikan kondisi makro global maupun Indonesia. Dimulai dari TACO (Trump Always Chickens Out) hingga penggantian Menkeu ke Pak Purbaya yang jauh lebih cocok pada masa ini dibandingkan dengan Menkeu sebelumnya. Hingga akhirnya IHSG mengalami rally hebat yang hampir tidak terputus hingga akhir tahun 2025.
Sudah rahasia umum bahwa rally IHSG tahun 2025 memang sudah direncanakan, bahkan ketika mendekati perayaan 17 Agustus angka IHSG bisa di atas 8.000, lebih tepatnya pas menyentuh angka cantik di 8.017, sesuai dengan perkataan beberapa pejabat pemerintah. Dan ketika ada kepentingan untuk menaikkan IHSG dengan cepat tentu saja saham konglo menjadi pilihan yang paling mudah.
Imbas dari rally IHSG ini tidak hanya mendongkrak harga saham konglo saja tapi juga menarik harga saham non konglo, sehingga secara keseluruhan cukup susah mencari saham yang undervalue. Jadi daripada saya bosan menganalisa perusahaan yang sahamnya tidak menarik untuk dibeli, saya alokasikan waktu dan energi saya untuk mempeluas horizon saya di market.
Sejak PI berdiri hingga tengah tahun 2025 saya masih bersikukuh bahwa dalam jangka panjang hanya value investing klasik yang terbukti bisa memberikan kekayaan yang besar. Karena dari awal saya percaya hal itu, maka lingkungan investasi saya juga tidak jauh-jauh dari value investing, sehingga saya pun menutup diri dari gaya investasi atau trade lainnya.
Tak disangka ketika saya membuka diri kepada berbagai macam teknik baru, ternyata banyak juga orang yang berhasil mendapatkan return luar biasa dengan teknik yang berbeda-beda, ada yang teknikal, bandarmology, baca broksum, scalping dan lain-lain. Saya tahu memang banyak penipu diluar sana yang berpura-pura punya return luar biasa padahal sahamnya hanya 1 lot, tapi untungnya beberapa orang yang saya kenal ini memang benar-benar berhasil tanpa harus jualan kelas dan pump and dump. Bahkan semuanya tidak pernah flexing.
Dari lingkungan baru ini pun saya belajar banyak teknik-teknik yang bisa diaplikasikan di value investing, seperti misalnya permainan IEP/IEV, pemakaian t+, cara psp mengatur sahamnya dan lain-lain.
Maka saya sangat berterima kasih kepada semua teman dan rekan investor dan trader yang bersedia membuka mata saya terhadap serba-serbi gaya investasi dan trade di Indonesia. Saya tentu berharap semuanya selalu berhasil di jalannya masing-masing dan tidak pernah mencela gaya investasi/trade orang lain karena kemungkinan besar bukannya gaya orang lain salah tapi kita sendiri yang belum memahaminya.
memiliki saham dengan porsi besar
Walaupun saya sudah belajar banyak teknik baru, tapi tetap core investasi saya tetaplah di value investing. Jadi portofolio PI di 2025 masih bersifat terkonsentrasi karena 1 saham bisa memakan hampir setengah dari total porto. Saham ini adalah PYFA (PT. Pyridam Farma Tbk).
Saya pertama kali menemukan perusahaan ini secara tidak sengaja di salah satu postingan di forum Stockbit. Pada saat itu ada orang yang menyebutkan bahwa PYFA berencana melakukan Right Issue dengan rasio 1:30. Setelah saya baca dokumen yang dilampirkan, seketika saya langsung flashback dengan PANI (bisa baca Annual Letter 2024) sehingga saya berani berspekulasi PYFA. Pada 12 Desember 2023 saya beli sebesar 3% porto.
Selanjutnya saya mulai mengumpulkan semua data publik yang bisa saya temukan, terutama mengenai siapa owner asli dari perusahaan ini, karena pada saat itu founder PYFA sudah menjual perusahaannya ke sebuah SPV di Singapura. Nah, tidak disangka saya berhasil menemukan beberapa clue mengenai siapa sebenarnya pemilik SPV tersebut walaupun masih belum yakin 100%.
Langkah berikutnya, saya membawa semua data dan thesis saya kepada beberapa teman investor sebagai bahan diskusi. Mereka banyak membantu saya mengecek latar belakang aksi korporasi ini dan mayoritas setuju bahwa spekulasi ini cukup menarik untuk diikuti. Salah satu hal utama mengapa ini menarik adalah pada saat itu aksi korporasi ini tidak populer di market sehingga jarang dibahas di grup saham umum, sehingga tidak heran bila informasi yang saya berikan ini akan tersebar ke orang lain. Saya pribadi tidak masalah dengan hal ini, toh semua informasi yang saya kumpulkan berasal dari informasi publik.
Menariknya, ide ini menyebar ke berbagai kalangan sembari ditambahi oleh informasi baru yang seringkali berguna untuk menajamkan thesis nya. Hingga pada suatu hari informasi mengenai siapa owner sebenarnya ini sampai kepada saya yang akhirnya lebih memantapkan conviction di saham ini. Puji Tuhannya, teman-teman yang pada awal tadi saya berikan thesis malah menjadi teman diskusi, bahkan sampai sekarang. Karena bantuan dari mereka pula saya memberanikan diri untuk menambah porsi spekulasi di PYFA hingga 5% dari porto.
Pada 24 April 2024 saya menebus Right Issue PYFA dan alokasinya bertambah menjadi sekitar 15% dari porto. Lalu sahamnya jatuh dari 160 menjadi 90.
Pada saat ini conviction sangat diuji, karena selain saya mengalami kerugian opportunity cost yang besar (harga tebus right 100), pada saat itu juga bisnis dari PYFA ini masih belum jelas arahnya kemana. Harus diakui bahwa pada fase seperti ini, mayoritas conviction harus ditaruh kepada owner dalam artian kita harus percaya bahwa owner ini memiliki kemampuan dan kemauan untuk memajukan perusahaan dan me-maintain harga sahamnya. Sekali lagi saya pun banyak dibantu oleh teman-teman yang memiliki koneksi ke grup owner PYFA.
6 bulan selanjutnya baru harga saham PYFA mulai menunjukkan pergerakan dan naik ke sekitaran 200, walaupun sempat turun lagi waktu Januari 2025 ke sekitar 160. Pada masa ini akuisisi perusahaan Australia dari hasil Right Issue sudah selesai dilakukan, Public Expose yang menjelaskan potensi revenue dan akuisisi selanjutnya pun sudah dipaparkan. Karena harga saham PYFA sudah naik dari 100 ke 200, maka sudah mulai banyak orang yang membahas saham ini. Apalagi revenue perusahaan naik drastis dari sekitar 150 Milyar per kuartal menjadi 700 Milyar.
Sayangnya, diskusi kembali sepi pada awal paruh 2025 karena lagi-lagi harganya nggak kemana-mana. Apalagi ternyata revenue kuartalan PYFA juga stuck di 700 Milyar dengan profit yang minus karena tergerus oleh biaya hutang bank. Namun, saya masih memiliki conviction tinggi sehingga saya ada menambah porsi PYFA di porto sehingga kira-kira menjadi sekitar 20%.
Barulah pada akhir Juli 2025 harga sahamnya rally lagi hingga mencapai harga 488 di akhir tahun 2025. Pada saat ini porsi PYFA sudah menduduki sekitar 40-45% dari porto PI.
Pada saat saya menulis Annual Letter ini, belum ada satu lembar pun yang saya jual karena conviction saya di PYFA masih besar. Saya yakin akan ada pertumbuhan revenue yang besar lagi, terutama dari akuisisi (memang manajemen bilang pertumbuhan besar dari anorganik) dan owner masih memiliki ambisi untuk memiliki market share yang signifikan di industri farmasi.
efek portofolio terkonsentrasi
Bila PYFA berhasil naik dari harga beli saya di sekitar 180 menjadi 488, mengapa porto PI sepanjang 2025 hanya 23.55%?
Ya ini adalah karakter dari portofolio terkonsentrasi. Bila berhasil maka akan return akan naik signifikan, begitu pula sebaliknya. Selain PYFA saya ada 1 lagi saham yang juga mengambil porsi besar. Sayangnya thesis saya di saham ini kurang berhasil sehingga memberatkan kinerja portofolio PI secara signifikan. Hal ini pernah juga terjadi pada tahun 2022 dimana pada saat itu kenaikan saham batubara yang porsinya 30% saya terhapus oleh penurunan saham non-batubara yang porsinya mencapai 50%.
Jadi apakah strategi portofolio terkonsentrasi ini perlu saya ganti? Nah, dari perjalanan saya berkeliling untuk mempelajari ilmu baru dari praktisi investor/trader lain, salah satu prinsip yang selalu digunakan oleh semuanya adalah “Di porto max 5 saham” kecuali size kita sudah terlalu besar sehingga uang cash tidak bisa dihabiskan oleh 5 saham. Sejago apapun seorang investor bila sahamnya terlalu banyak, return dari portonya pun tidak bisa bagus.
Maka saya memutuskan tetap akan memiliki portofolio yang terkonsentrasi. Pekerjaan selanjutnya adalah, memakai berbagai ilmu yang saya dapatkan dari teman-teman baru untuk menajamkan analisa pribadi saya sehingga saya tidak lagi salah memilih saham di portofolio. Saya pun juga akan memperluas koneksi kepada rekan-rekan investor/trader untuk lebih memperluas knowledge market di Indonesia.




