“Free Money” di pasar saham

This is Wall Street, Dr. Burry. If you offer us free money, we are going to take it

Goldman Sachs, The Big Short (2015)

Quote di atas disadur dari film The Big Short (2015). Bagi yang belum tahu, film tersebut menceritakan tentang housing market crisis di USA tahun 2008. Diceritakan bahwa Dr. Burry, seorang fund manager di Scion Capital hedge fund, sedang melakukan transaksi Credit Default Swap dengan Goldman Sachs yang intinya bila suatu saat obligasi housing mortgage terjadi gagal bayar alias default maka Goldman Sachs harus membayar Dr. Burry, namun bila obligasi tersebut tidak default, maka Dr. Burry harus terus membayar preminya tiap bulan. Yah Credit Default Swap cara kerjanya mirip dengan asuransi. Karena menurut Goldman Sachs tidak akan pernah terjadi default di housing market (dan secara historis juga tidak pernah terjadi) maka premi yang dibayarkan Dr. Burry itu dianggap free money.

Bila kita bedah lagi, definisi dari free money itu adalah keuntungan yang kita dapatkan dengan resiko yang sangat kecil. Tentu saja Goldman Sachs tau bahwa ada resiko default dari Obligasi itu, namun kemungkinannya sangat sangat kecil, sedangkan keuntungan dari premi Dr. Burry sudah pasti akan didapatkannya.

Di dunia investasi, free money itu sebenarnya banyak macam, bahkan sangat mudah didapatkan. Deposito terjamin LPS, Obligasi negara, Obligasi korporasi rating AAA, bahkan reksadana pasar uang bisa disebut “free money” karena anda dijamin akan mendapatkan keuntungan dengan resiko yang sangat minim. Rata-rata keuntungan investasi tersebut antara 3-7% per tahun.

Nah pertanyaannya, apakah kita bisa mendapatkan “free money” di pasar saham? dan tentu saja kalau di pasar saham kita tidak mau mendapat keuntungan di bawah 7% per tahun, kalau di bawah itu ya lebih baik taruh di reksadana pasar uang saja.

Kabar baiknya ada beberapa peluang “free money” di pasar saham yang bisa memberikan anda banyak uang dalam waktu singkat dan resiko yang cukup minim. Tetap, dan ini penting, peluang ini jarang sekali terjadi dan untuk mendapatkannya butuh keberuntungan, ketelitian dan ketenangan.

Lalu perlu diingat juga bahwa saya tetaplah seorang investor, bukan trader. Jadi peluang yang saya bahas di bawah ini berdasar pada standar resiko saya. Akan banyak sekali trader agresif yang mendapatkan keuntungan di atas saya dan itu wajar karena mereka juga menanggung resiko yang lebih besar. Anyway, yuk langsung dibahas aja peluang-peluang itu.

Dividen Yield

Dividen yield adalah jumlah dividen sebelum pajak dibanding harga saham. Bila HMSP memberikan dividen sejumlah 120/saham dan saat itu harga sahamnya 1,800 maka dividen yield HMSP adalah 6.67%. Lalu bagaimana menemukan peluang dari dividen yield? Peluang “free money” baru akan muncul saat ada saham yang memberikan dividen yield (ingat bukan jumlah dividen ataupun dividend payout ratio) dengan persentase Jumbo. Berapa persentase yang dianggap Jumbo? Menurut pengalaman saya, yield di atas 16%.

Strategi yang digunakan adalah, saat harga saham tersebut masih membuahkan yield >16%, maka kita bisa coba untuk beli saham tersebut secara lumpsum ataupun dicicil. Nah lalu saham tersebut anda jual bila harga sudah naik hingga yield di sekitar 11-13%, semakin kecil yield saat anda jual semakin beresiko juga harga saham dibanying turun. Selain itu anda juga bisa jual pada H-2 Cum date, karena menurut pengalaman saya biasanya trader mulai take profit sekitar H-1 atau H Cum Date.

Saya berhasil mendapatkan peluang ini pada 3 Juni 2020 saat MLPT (Multipolar Teknologi) mengumumkan pembagian dividen terbesar mereka senilai 133/Saham. Pada 2 Juni, MLPT close di harga 565 dan besok paginya langsung ARA di 705. Saya termasuk yang cukup terlambat, sehingga hanya bisa beli di harga 705. Namun pada harga tersebut, dividen yield MLPT masih di angka 18.87%. Tentu yield 18.87% itu sangat atraktif dan kalau tidak ada mekanisme ARA, sudah pasti MLPT akan melambung di harga 1000-an. Atas dasar itulah saya beli MLPT lumpsum di harga 705.

Awalnya saya memasang GTC (Good Till Cancelled) sell order di 985 karena saya anggap angka psikologi resisten itu di sekitar 990-1000 dimana bila sudah mencapai harga 1000, yieldnya sudah di 13.3% yang mana cukup beresiko untuk turun lagi. 2 hari berikutnya MLPT close di 885 karena beberapa trader sudah mulai take profit, perkiraan saya hari senin tanggal 08 Juni GTC saya akan di execute.

Namun perkiraan saya salah, senin itu IHSG sangat euforia bahkan naik di atas 2%. Nah karena lonjakan yang luar biasa itu, GTC saya tidak sempat ke execute karena MLPT langsung naik di atas 1000. Melihat kondisi ini, saya langsung menyesuaikan strategi dengan TP yang baru yaitu di sekitaran 1090-1100 alias beberapa poin di bawah harga ARA. Pada akhirnya saya menjual seluruh saham MLPT secara bertahap hingga di harga maksimal 1095. Maka saya mendapatkan keuntungan maksimal sekitar 55% dalam 3 hari kerja.

Poin-poin penting di strategi dividen yield adalah:

  • Pastikan dividen yield pada saat anda membeli saham di atas 16%, lebih tinggi lebih baik
  • Pasang TP yang masuk akal, yaitu pada saat harga menyentuh yield 10-13% atau saat H-2 Cum Date
  • Jangan pernah serakah, inti dari strategi ini adalah mendapatkan keuntungan cepat dengan resiko yang cukup minim. Bukan mendapat keuntungan sebanyak-banyaknya
  • Bila sekuritas menyediakan, pasang GTC order supaya psikologi anda tetap terjaga
  • Bila anda tidak menemukan saham berdividen yield di atas 16%, jangan paksa untuk tetap membeli sahamnya karena biasanya anda malah rugi (Contoh: PTBA atau ADMF di 2020).

IPO

Initial Public Offering (IPO) adalah saat dimana perusahaan akan melisting dirinya di pasar modal. Umumnya saham IPO akan naik tinggi, tidak jarang yang ARA beberapa hari berturut-turut. Namun bagi yang belum tahu, anda bisa reserve dulu saham tersebut sebelum listing di bursa saham, yaitu dengan cara Bookbuilding. Bagaimana cara ikut bookbuilding? Anda harus mempunyai akun di sekuritas yang menjadi lead underwriter saham IPO itu. Contohnya PT Cashlez Worldwide Indonesia Tbk (CASH) mempunyai lead underwriter Sinarmas Sekuritas. Bila anda mempunyai akun disitu, maka anda bisa saja ditawari bookbuilding CASH.

Strateginya adalah, saat Bookbuilding, anda ajukan berapa jumlah saham yang anda beli dan harga pengajuannya. Sebisa mungkin ajukan saja sebanyak-banyaknya karena biasanya yang terpenuhi hanya sepersekian persen dari pengajuan (yang besar sudah diambil investor jumbo). Lalu anda siap-siap jual pada hari kedua dari listing emiten itu karena menurut pengalaman biasanya saham IPO akan mulai goyah di hari ke-3. Kecuali bila emiten tersebut IPO di papan akselerasi dimana batas ARA hanya 10%, anda bisa tunggu hingga 3-4 hari setelah listing baru jual.

Bila anda mendapat bonus Waran saat Bookbuilding, silahkan langsung jual pada saat listing sehingga tidak perlu pusing dengan volatilitas waran tersebut.

Apakah semua saham IPO akan naik pada saat listing? Belum tentu. Lalu bagaimana cara memilih IPO yang akan naik? Well, intinya bila harga penawaran saham tersebut murah (sekitar ratusan rupiah atau di bawah), lalu penggunaan dana IPO tidak untuk bayar hutang, dan disediakan bonus waran saat bookbuilding maka hampir pasti harga saham itu akan naik. Untuk detail cara pemilihan saham IPO itu bisa dibaca di buku teman saya “Constant Profit from IPO Stocks” oleh Edwin Santoso, CFP. Beliau akan menjelaskan secara detail mengenai strategi mendapatkan keuntungan dari saham IPO ini. Saya tidak disuruh untuk mempromosikan bukunya, saya memang merekomendasikan buku ini karena isinya yang bagus.

Sejak saya baca buku itu, saya sudah mengikuti beberapa IPO yang lead underwriternya Sinarmas Sekuritas antara lain CASH (Cuan 18.86%), TECH (Cuan 68.75%) dan OPMS (Cuan 203.7%).

Poin-poin penting di strategi IPO adalah:

  • Pastikan anda membeli saham saat Bookbuilding, bukan saat sudah listing
  • Pilih emiten yang berpeluang ARA beberapa hari berturut-turut
  • Jual saham di H+1 kecuali papan akselerasi, jual waran secepatnya
  • Jangan serakah, hampir seluruh saham IPO akan ARB berkali-kali bahkan di bawah harga IPO nya. Jangan sampai anda baru jual saat sudah ARB
  • Baca buku dari Edwin Santoso, CFP untuk lebih detailnya.

Satu hal yang selalu saya ingatkan kepada semua pembaca, jangan serakah. Kesempatan ini memang jarang sekali terjadi di pasar saham, namun saat ada “free money” datang anda pasti tergiur untuk segera menggunakan segala dana untuk dapat keuntungan cepat. Biasanya kegagalan mendapat “free money” disebabkan oleh keserakahan investor untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dan mengabaikan resikonya. If you want the best profit, you cannot get it without a substantial risk, then it’s not free money anymore.

Paskalis Investment tetap berpegang teguh pada investing bukan trading, tetapi bila peluang muncul maka saya akan bilang, “This is IDX, Mr. Market. If you offer me free money, I am going to take it.”

Artikel ini dibuat atas request pak Jakobus di grup telegram Paskalis Investment (linktr.ee/paskalisinvestment).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *