Cara Belajar dari Kesalahan 15 Pemain Saham Kelas Dunia

Ketika kita ingin melangkah untuk mendalami suatu bidang, entah itu bisnis, studi, olahraga, biasanya kita akan melihat figur-figur sukses di bidang tersebut. Apakah ada entrepreneur gak tau Bill Gates? Ada pemain basket gak pernah lihat cara main Michael Jordan? atau ada pemain piano yang gak pernah denger lagu Beethoven? Rasanya sangat wajar kalau kita melihat figur-figur sukses ini, karena kalau tidak ada yang pernah sukses di bidang itu, kita jadi bertanya pada diri sendiri apa gunanya masuk ke bidang ini?

Namun dari umur belasan tahun saya ada rasa tidak puas dengan ide itu. Seharusnya kita tidak terpaku pada kesuksesan orang itu saja, karena pasti banyak kesalahan yang dilakukannya dan rasanya itu lebih penting untuk dipelajari dibanding kesuksesannya. Bayangkan saja apabila kita diberi rutinitas sehari-harinya Mark Zuckerberg dari jaman sekolah hingga saat ini secara detail, bahkan sampai dengan cara codingnya dia, apakah kita bisa membuat website yang menghasilkan Rp 1,047,056,000,000,000 tiap tahunnya? Atau kalau kita dikasih cara dribble, shooting, program latihan, program diet Christiano Ronaldo apakah sekarang kita bisa menghasilkan 700+ goal di berbagai klub sepakbola dunia?

Saya pernah nonton suatu seminar mengenai perbedaan Millionaire dengan Billionaire yang intinya (saya lupa persisnya) pembicara itu bilang. Bila anda ada di saat yang tepat (Right Time), atau orang yang tepat (Right People), atau di tempat yang pas (Right Place), atau di tim yang tepat (Right Team) ada kemungkinan anda menjadi seorang Millionaire. Ini Millionaire dalam hitungan USD ya, jadi kalau di Indonesia ya setidaknya anda punya 10 Milyar rupiah lah. Namun bila anda ingin menjadi seorang Billionaire, anda tidak bisa hanya memiliki salah satu fitur itu. Anda harus menjadi The Right People at The Right Place and at The Right Time with The Right Team dan terakhir anda juga harus punya Luck yang tinggi. Bila anda kurang satu saja, anda tidak mungkin bisa masuk ke Forbes 500.

Kedua ide tersebut yang selalu mengganjal di hati saya ketika saya harus belajar dari kesuksesan orang lain. Belajar cara sukses memang baik, tapi menurut saya itu hanya mencakup 50% dari apa yang harus kita perhatikan, sisa 50% lagi ada belajar dari kesalahannya. Saya tentu bertanya-tanya, bagaimana cara belajar dari kesalahan figur-figur itu? Kalau saya tidak punya koneksi dengan mereka, ya akhirnya buntu juga, karena hampir tidak ada orang yang suka mengumbar kesalahannya, jadi tidak usah berharap dia akan menceritakannya di biografinya. Kalaupun ada biasanya sudah dipoles supaya tidak semengerikan aslinya.

Satu-satunya cara untuk belajar dari kesalahan ya dengan praktek sendiri, karena cepat atau lambat kita akan melakukan kesalahan-kesalahan tersebut. Namun saya juga kurang setuju dengan metode ini, karena satu butuh waktu yang lama untuk belajar kesalahan-kesalahan tersebut dan biayanya bisa jadi sangat mahal. Contoh sebagai pebisnis, sekarang saya tau bagaimana harus deal dengan supplier yang benar dan untungnya disaat saya melakukan kesalahan tersebut, total kerugian yang saya capai hanya jutaan rupiah saja. Bayangkan bila anda baru melakukan kesalahan tersebut bila sudah jadi direktur Astra, ruginya tentu di angka jutaan dollar.

Dari situlah saya terus mencari referensi untuk bisa belajar dari kesalahan orang, bahkan saya pernah bilang, saya tidak butuh solusinya saya hanya perlu penjelasan detail mengenai kesalahan orang itu. Namun pencarian selama belasan tahun itu tidak membuahkan hasil. Sampai akhirnya di bawah tanah toko buku kecil di luar negeri saya menemukan buku yang saya cari-cari selama ini.

Big Mistakes

Buku Big Mistakes: The Best Investors and Their Worst Investments karangan Michael Batnick menceritakan tentang 15 kesalahan besar yang dilakukan oleh 15 Pemain Saham kelas Dunia (Bab 16 menceritakan tentang Michael Batnick sendiri), saya tidak menganggap mereka semua investor karena memang ada yang bekerja sebagai spekulator. Pemain saham yang dibahas di buku ini adalah:

  • Benjamin Graham
  • Jesse Livermore
  • Mark Twain
  • John Meriwether
  • Jack Bogle
  • Michael Steinhardt
  • Jerry Tsai
  • Warren Buffett
  • Bill Ackman
  • Stanley Druckenmiller
  • Sequoia
  • John Maynard Keynes
  • John Paulson
  • Charlie Munger
  • Chris Sacca

Michael Batnick menulis buku ini dengan bagus dimana di setiap bab dia akan fokus pada satu investor tersebut. Kesalahan-kesalahan yang diuraikan biasanya berurut dari yang kecil-kecil hingga klimaksnya selalu pada masalah terbesar yang pernah dialaminya. Menariknya, kesalahan besar yang dilakukan investor tersebut biasanya tidak banyak diketahui oleh orang awam.

Contohnya kalau saya tanya apa kesalahan besar Warren Buffett? Mungkin jawaban yang muncul adalah: Pembelian Berkshire Hathaway, terlambat membeli IBM/Apple/Google, sampai yang terbaru ini Warren mengalami loss besar di saham maskapai USA. Nah yang dibahas di buku ini malah investasinya di Dexter Shoe Co tahun 1993 dimana Warren Buffett dan Charlie Munger melanggar ajarannya sendiri. Pembelian itu tidak didasar oleh analisa Moat perusahaan dan juga bidang sepatu masih di luar Circle of Competencenya mereka berdua. Bayangkan investor terbesar di dunia masih melakukan kesalahan yang sangat dasar! Akhirnya Berkshire Hathaway harus rugi sekitar $6 billion.

Oh ya bagi anda yang tidak kenal siapa itu Jerry Tsai, John Paulson, atau Chris Sacca, tidak perlu khawatir karena Michael Batnick juga memberi latar belakang singkat tentang perjalanan karir orang itu.

Menurut saya tulisan Batnick cukup objektif dan apa adanya, tidak “memoles” kesalahan mereka. Bahkan di bab terakhir pun dia menceritakan perjalanan hidupnya dengan sangat transparan. Ada satu potong cerita dimana keberhasilan Michael Batnick menjadi investor saat ini ya karena faktor at The Right Time, The Right Place and at The Right People. Mirip seperti teori yang saya tonton di seminar itu.

Saya tidak mungkin bisa menjelaskan cerita 15 pemain investor itu di blog ini, selain panjang sekali, saya juga merasa tidak etis kalau membocorkan isi buku ini. Jadi bagi yang ingin tahu ceritanya secara lengkap bisa langsung beli saja bukunya. Saya pribadi belum pernah melihat buku ini dipublikasikan di Indonesia, jadi bagi yang ingin beli buku aslinya langsung saja beli versi digitalnya di Amazon, linknya sudah saya sediakan di bawah ini.

Apa guna membaca buku ini? seperti yang saya katakan di awal tadi, belajar kesalahan dari pengalaman butuh waktu dan biaya yang mahal. Setidaknya setelah kita baca buku ini, hanya dengan waktu singkat dan biaya murah, kita seolah-olah mendapatkan pengalaman tersebut. Kita tahu apa yang harus dihindari agar tidak salah di dunia investasi.

Namun, setelah baca buku ini, apakah saya menjadi aman dari segala kesalahan investor? Apakah saya jamin bahwa saya tidak akan jatuh di lubang yang sama? Oh tentu saja tidak mungkin. Layaknya belajar dari kesuksesan, belajar dari kesalahan memiliki unsur yang sama yaitu belajar. Setekun-tekunnya orang belajar, dia pasti akan melakukan kesalahan juga pada saat praktek. Hanya saja setidaknya kita tidak perlu melakukan kesalahan yang sama yang dijabarkan di buku ini. Dengan waktu 3 hari dan biaya $18, it’s a steal.

Oh ya, saya berniat untuk mengulas kesalahan dari salah satu investor di atas. Ada usulan investor mana yang cocok dibahas?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *