Tips Memilih Reksadana a’la Benjamin Graham

Pada November 2019 saya menulis sebuah artikel mengenai pros & cons Saham dan Reksadana. Selain menjabarkan perbedaan kedua instrumen investasi itu, saya juga memberikan beberapa pertanyaan yang menentukan anda lebih cocok investasi saham ataupun Reksadana. Bisa dibaca lagi di sini.

Nah, kalau anda cocoknya investasi di Reksadana, kali ini saya mau coba memberikan tips cara memilih Reksadana. Tips ini saya sadur dari buku The Intelligent Investor by Benjamin Graham. Bagi yang belum tahu, Benjamin Graham adalah guru besar dalam bidang investasi saham. Salah satu muridnya yang terkenal adalah Warren Buffett. Walaupun buku ini ditulis beberapa puluh tahun yang lalu, ilmunya masih sangat relevan untuk jaman sekarang; bahkan jauh lebih relevan karena banyaknya berita ngawur di internet.

Beberapa tips memilih reksadana yang akan saya jelaskan dibawah ini sudah saya rubah sedemikian rupa agar lebih relevan terhadap kondisi Reksadana di Indonesia. Bila saya memberikan contoh, maka yang saya pakai adalah Reksadana Panin Dana Maksima. Saya tidak di sponsor tetapi informasi yang diberikan Panin cukup lengkap sehingga gampang dianalisa. Pak Rudiyanto, direktur Panin Asset Management juga salah satu pengajar yang bagus di Indonesia.

Biaya Rendah

One of the most common myths in the fund business is that… high returns are the best justification for higher fees

page 250

Biaya yang dimaksud adalah Management Fee, Custodian Fee, dll…
Riset mengatakan tidak ada korelasi antara biaya dan performa Reksadana. Reksadana bukanlah sebuah barang dimana kalau bahannya semakin bagus (mahal) maka barang itu akan semakin berkualitas juga. Naik turun performa Reksadana dipengaruhi oleh Manajer Investasi (MI) nya, lantas kalau kita beri gaji besar ke MI apakah dia bisa menambah nilai NAV Reksadana? Tentu saja tidak, karena hasil dari Reksadana berasal dari underlying assetnya bukan dari MI.

Biaya Panin Dana Maksima
Biaya Panin Dana Maksima

Biaya Reksadana adalah hal yang permanen dan mutlak sedangkan performa Reksadana sifatnya tidak pasti. Kalau tahun 2017 Reksadana memberikan return 15% dengan biaya 3%, maka return kita adalah 12%. Namun kalau tahun 2018 returnnya menurun hingga 5%, biayanya pasti akan tetap 3%, maka return kita sisa 2%. Apa jadinya kalau return tahun 2019 -2%? tentu saja kita lebih rugi lagi, sedangkan komisi MI tidak berubah.

Biaya ini adalah hal yang tidak terlihat di grafik NAV Reksadana, karena NAV yang tercantum sudah nett (return – biaya). Jadi kita harus baca di FFS atau prospektus reksadana tersebut. Fun Fact: Salah satu Reksadana terbesar di dunia, VFINX, dengan return 9,676% (11.5%/year) sejak 1976, biayanya hanya 0.14% saja.

Portfolio Turnover rendah

Portfolio Turnover adalah perbandingan nilai pembelian atau penjualan portfolio, mana yang lebih rendah, dalam satu periode dengan rata-rata nilai aset bersih setahun. Biasanya angka yang muncul bentuknya seperti 0,17:1 yang artinya 17% dari aset bersih tersebut diperdagangkan dalam setahun. Jadi kalau saya punya 100 Milyar saham, 17 Milyar saya perdagangkan dalam setahun.

Rasio Keuangan Panin Dana Maksima
Rasio Keuangan Panin Dana Maksima

Bagi yang pernah investasi saham pasti tahu bahwa pembelian dan penjualan saham itu ada biayanya yang antara lain: biaya sekuritas, biaya pajak, biaya BEI dan KPEI (Biaya ini biasanya dicampur jadi 1 jadi trading fee). Nah berarti semakin tinggi turnover portfolio Reksadana, semakin sering dia jual-beli aset sahamnya, maka semakin besar juga biaya yang akan muncul. Otomatis, biaya yang kita tanggung akan semakin besar. Sesuai poin di atas, semakin besar biaya maka return yang kita dapatkan akan semakin rendah.

Resiko Rendah

Pada saat kita melihat grafik NAV Reksadana coba kita pecah tiap 3 bulan. Lihat lagi penurunan NAV Reksadana terdalamnya per 3 bulan tersebut. Lalu tanyakan ke diri sendiri “Apakah saya berani rugi sekian %?”, kalau anda tidak berani, silahkan pilih reksadana lainnya.

Grafik NAV Panin Dana Maksima
Grafik NAV Panin Dana Maksima

Pada Februari 2018 NAV Panin Dana Maksima 79,895.51 lalu terus menurun hingga 3 bulan ke depan di Mei 2018 menjadi 72,648.52 yang artinya dana investasi anda turun -9.98%. Bila anda tidak berani menanggung kerugian tersebut, cari reksadana lain dengan faktor resiko lebih rendah misalnya Reksadana Pendapatan Tetap.

Biasanya semakin besar portfolio turnover Reksadana, semakin agresif pula karakter Reksadana tersebut.

Strategi MI tidak “Populer”

Cara paling mudah untuk mengetahui strategi MI adalah dengan membaca tujuan dari Reksadana, biasanya ada di Fund Fact Sheet atau Prospektus. Cara kedua adalah dengan membaca laporan keuangan Reksadananya dan lihat Underlying Asset Reksadana tersebut.

Underlying Asset adalah aset yang dimiliki Reksadana tersebut. Tiap macam Reksadana akan memiliki aset yang berbeda, contohnya Reksadana Pasar Uang akan memiliki deposito bank sebagai Underlying Assetnya. Reksadana Ekuitas biasanya memiliki 80% saham dan 20% deposito. Bila kita teliti lagi di laporan keuangan, Reksadana akan menyebutkan aset apa saja yang dimiliki secara detail.

Underlying Asset Panin Dana Maksima
Underlying Asset Panin Dana Maksima

Bagi para value investor seperti Benjamin Graham, Warren Buffett dan Paskalis Investment, mengikuti arus tren di pasar saham adalah kesalahan nomor utama. Logikanya seperti ini, pada saat properti sedang ngetren berapa tahun yang lalu, semua orang berbondong-bondong membeli properti. Orang yang sudah membeli akan menjual lagi di harga yang lebih tinggi, lalu pembeli berikutnya akan menjual dengan harga yang lebih tinggi dan seterusnya (panic buying). Saham perusahaan properti juga mengalami hal serupa dimana harganya selalu naik karena valuasi properti mereka juga naik terus.

Pada fase ini, banyak MI Reksadana akan mengalihkan Underlying Assetnya ke saham properti soalnya harga sahamnya naik terus, sehingga yearly performancenya jadi kinclong. Bahkan beberapa perusahaan akan mengeluarkan Reksadana khusus emiten properti.

Nah di saat seperti ini harga properti maupun harga sahamnya sudah kelewat mahal karena digoreng terus-menerus. Hingga suatu saat harga tersebut sudah mencapai puncak dan harga jualnya mulai menurun secara drastis (panic selling) dan harga saham emiten properti juga anjlok, otomatis NAV Reksadana yang isinya saham properti semua juga akan anjlok.

Pada saat tren properti seperti itu, coba cari MI yang malah tidak membeli saham properti dan bertahan pada konsep value investing. Contoh yang ditulis di The Intelligent Investor adalah saat Fidelity Magellan yang dinahkodai MI Peter Lynch membeli Chrysler besar-besaran waktu perusahaan itu hampir bangkrut. Sampai saat ini pembelian Chrysler itu adalah salah satu kesuksesan terbesar Peter Lynch.

kesimpulan Tips Memilih Reksadana

Berikut poin-poin penting dalam tips memilih Reksadana urut dari yang paling penting:

  1. Biaya Rendah
  2. Portfolio Turnover Rendah
  3. Resiko Rendah
  4. Strategi MI Tidak “Populer”

Tidak mudah mencari Reksadana dengan 4 poin di atas karena biaya Reksadana di Indonesia cukup tinggi dan laporan keuangannya tidak transparan. Namun bila kita terus-menerus mencarinya, pasti akan menemukan Reksadana yang tepat.

Tags:

1 thought on “Tips Memilih Reksadana a’la Benjamin Graham”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *